Sunday, 24 September 2017

4 Hal tentang The Prague Astronomical Clock: Peninggalan dan Peradaban.

Tags


Astronomial Clocks di Kota Praha, Ceko termasuk dalam salah satu list  “must-see” saat kita berkunjung di kota ini. Di sudut "The Old Town Square" ada sebuah jam yang sudah dibangun sejak berabad-abad lalu. Suasana dikawasan ini sangat kentara akan sejarah dan peninggalan masa lalu yang menjadi bagian penting dari peradaban manusia. Astronomial Clocks sudah berusia lebih dari 600 tahun, dan masih beroperasi. Keren! Berikut ini adalah  4 hal yang yang patut untuk kita ketahui tentang jam bersejarah ini.
1.   The Orloj
Astronomial Clock juga sering disenut sebagai “Orloj” atau The Ornate Clock. Jam ini merupakan salah satu dari “Prague's most recognised touristic spectacles
2.    The Prague Astronomical Clock, Saksi Peradaban.
Astronomial Clocks dibuat oleh Master Hanus pada tahun 1410, dan hingga saat ini, peninggalan bersejaran ini sudah berusia lebih dari 600 tahun. Astronomial Clock menjadi saksi bisu peradaban manusia, dan merupakan Jam Astronomial tertua ketiga didunia.

3.   The deepest civic anxieties of 15th-century Praguers
Jika diperhatikan dengan seksama maka akan ada 4 (empat) gambar di samping jam, yaitu: Vanity (membawa cermin), Greed (membawa tas uang; Kreditur YahudiI), Death (the skeleton) and Pagan Invasion (digambarkan dengan sebuah “Turk”). Keempat gambar ini adalah Chronicler, Angel, Astronomer dan Philosopher.
Ada 3 (tiga) buah lingkaran jam yang menunjukkan waktu yang berbeda. Lingkaran terluar dengan menggunakan Schwabacher numerals adalah the Old Czech Time (“Italian Time”). Lingkaran dengan Roman numbers adalah  the Central European Time dan lingkarang yang paling tengah adalah Babylonian Time dengan menggunakan Roman Numerals

4.    Menunjukkan lama waktu yang berbeda berdasarkan musim
Astronomal Clocks di Praha akan menunjukkan panjang waktu yang berbedasetiap jamnya  berdasarkan musimnya, akan lebih lama saat musim panas dan lebih cepat saat musim dingin.  The Prague Astronomical Clock  adalah jam satu-satunya di dunia yang bisa mengukur itu. Cool!
Peradaban, sejarah dan peninggalan masa lalu selalu menjadi hal menarik untuk diketahui. Betul, kan?tentunya.



Wageningen, 24 September 2017


Sunday, 17 September 2017

Sungai Danube: Sejarah Tragis di Kota Romantis

Tags

Sedikit cerita menarik yang hingga kini masih begitu lekat diingatanku, yaitu saat aku berjalan menyusuri Sungai Danube di Budapest. Ya, tepat sekali, di senja kala itu, satu hal yang ingin kulakukan dan rasakan kembali adalah ketika aku berjalan di tepi Sungai Danube, Hungaria. By the way, sungai ini membentang memisahkan Buda dan Pest di Hungaria. Apa yang membuatku begitu tertarik dengan kota ini? Apa yang demikian mempesona sehingga aku ingin mengulanginya kembali jika suatu hari nanti memiliki kesempatan menginjakkan kakiku di sini? Senja di Sungai Danube, tepat, itu jawabannya. Langitnya benar-benar cantik. Perpaduan antara riak-riak kecil air permukaan sungai yang seolah berkilauan terkena cahaya merah senja. Manis dan romantis.


Eits, tunggu dulu. Ada satu hal yang menarik perhatianku, yang aku temukan disalah satu sudut kota ini. Ada sebuah cerita tragis dibalik keromatisan kota ini. Sekitar 300 meter sebelah selatan dari The Hungarian Parliament, dekat dengan the Hungarian Academy of Sciences; diantara Roosevelt Square dan Kossuth square, serta berada tepat di tepi Sungai Danube, ada pemandangan yang tidak biasa. Apakah itu? Ada kurang lebih 60 pasang sepatu dengan model tahun 1940-an berjajar ditepian sungai yang terbuat dari besi. Apa yang unik? Sepatu ini merupakan sebuah monumen yang dibuat oleh seorang direktur film bernama Can Togay. Monumen untuk mengingatkan kita kepada kisah tragis dan bengis pada masa Perang Dunia ke II dulu.

'Shoes on the Danube Bank' merupakan sebuah monumen untuk mengenang pembunuhan 3,500 orang dan  800 nya adalah Yahudi di Hungaria, yang ditembak dan mayat dibuang di Sungai Danube oleh  Arrow Cross terror pada tahun 1944-1945. Tak jauh dari monument itu ada sebuah plat besi bertuliskan. "To the memory of the victims shot into the Danube by Arrow Cross militiamen in 1944–45. Erected 16 April 2005” dalam Bahasa Inggris Hungarian dan Hebrew.

Tak pernah menyangka sebelumnya bahwa akan ada sebuah kisah dan sejarah yang begitu tragis di kota nan romantis ini

Budapest, Hungaria

Isnawati Hidayah





Foto oleh: Isnawati Hidayah dan Steven Yasa

Saturday, 16 September 2017

6 Hal Penting dari Great Leap Forward: Utter Catastrophe Project!

Tags


source: Kinetic History (youtube.com)

Sebuah kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjadi langkah strategis (menurut Mao Zedong dan partainya)  modernisasi industry di China pada tahun 1958, setelah Perang Dunia ke 2. Kebijakan ini diimplementasikan dibawah kepemimpinan Mao Zedong. Great Leap Forward merupakan rancangan pembangunan 5 tahun yang bertujuan untuk menjadikan China sebagai super power country dan bisa menandingi US (Amerika Seikat) dan Britain pada masa itu sebagai pihak yang memenangkan Perang Dunia Ke-2 (dengan sitemnya Kapitalis). Kebijakan ini berfokus pada  kegiatan ekonomi di sektor pertanian dan industri secara bersama. Karena Mao memyakini bahwa keduanya bisa berjalan beriringan dan menjadi langkah strategis untuk perekonomian di China. Konsep yang diimplementasikan adalah sistem  produksi yang dimulai dari skala kecil ke besar dan terstruktur. Namun, faktanya, Great Leap Fprward dibawah kepemimpinan Mao ini mengakibatkan meninggalnya 16.5-30 juta orang. Berikut ini adalah 6 hal yang harus kamu tahu tentang Great Leap Forward:
1.   Backyard Steel Furnace
Program ini diproyeksikan selama 5 tahun untuk mendukung rapid industrialization di China, dimana mereka mengharapkan perusahaan manufaktur akan menjadi bagian sejarah dalam menjadikan China sebagai Leading Coutry dibidang ekonomi. Sistem yang mereka pakai adalah Backyard Steel Furnace dimana dibentuk kelompok-kelompok masyarakat yang memproduksi steel manufacture secara manual di halaman belakang rumah mereka. Hasil produksi merekapun sering kali kurang berkualitas, tidak terpakai atau bahkan kurang berkontribusi dalam meningkatkan economic value.

2.   Pengembangan pertanian dari skala kecil-ke besar dan secara kolektif mampu meningkatkan produktivitas.

Hingga Oktober 1958, 99.1% petani di bentuk menjadi kurang lebih 23,600 kelompok. Para petani tersebut harus memproduksi bahan pangan dan hasil pertaniannya, dimana kemudian akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota yang mengalami pertumbuhan populasi sangat pesat. Konsep inilah yang menyebabkan penduduk di kawasan terpencil (rural)  harus dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat urban.

3.   Mengakibatkan 16,5-30 juta orang meninggal.
Pemerintah menjanjikan pemenuhan kebutuhan terutama pangan untuk masyarakat di pedesaan (rural) sebagai upah kerja mereka dalam memenuhi kebutuhan penduduk  kota (urban). Namun faktanya, apa yang dijanjikan oleh pemerintahan Mao tidak dapat terpenuhi, sehingga mengakibatkan banyak penduduk yang meninggal karena kekurangan pangan, terjangkit penyakit dan kelaparan.

4.   Utter catastrophe program yang hanya berlangsung 3 tahun.
Karena perencanaan yang kurang, maka program ini berakhir dan menyebabkan banyak korban jiwa. Mao menjadi pihak yang disalahkan dalam kegagalan Great Leap Forward.
Program ini hanya berlangsung 3 tahun.

5.   Mengimplementasikan Labor Intensive Method daripada Mechine-centered industrial dalam industialisasi.
Great Leap Forward mengutamakan kelebihan tenaga kerja yang dimiliki oleh China dalam daripada melibatkan  perkembangan teknologi dalam mendukung kegiatan produksi. Pemerintah menyakini dengan sistem ini, akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang dimiliki sehingga meningkatkan penerimaan pajak ke pemerintah dengan jumlah produksi yang terus meningkat.Tapi, harapan  tersebut tidak berjalan dengan baik.

6.   Kegagalan Soviet Model of Industrialization
Great Leap Forward mengadopsi Soviet Model dimana capital bisa didapatkan melalui penjualan dari industri pertanian dan akan mendukung berkembangnya industri berat (heavy industry) seperti coal, steel, etc. Namun, sayangnya, China memiliki populasi yang padat dan tidak ada surplus di indutri pertanian yang mereka miliki. Sehingga model ini tidak bisa berjalan secara optimal dan mencapai pareto optima.


Well, done. Menarik bukan sedikit membuka sejarah dan belajar tentang Great Leap Forward? Yuk diskusi, kritik dan saran juga boleh.  


Monday, 4 September 2017

5 Non-economic Barriers yang harus kamu ketahui dalam “Non-economic Barriers to Economic Development” oleh Bert F. Hoselitz

Tags





Bert F. Hoselitz dalam jurnalnya yang berjudul “Non-Economic Barriers to Economic Development” memaparkan mengenai hal-hal diluar bidang ekonomi yang menjadi penghambat dalam pembangunan ekonomi. Menurutnya, ekonomi tidaak hanya berkutat pada teknis-teknis produksi dalam kegiatn ekonomi namun juga termasuk norma-norma dan nilai sosial yang menjadi penghambat pembangunan ekonomi. Berikut ini adalah 5 non-economic barriers yang harus kita ketahui berdasarkan jurnal dari Bert F. Hoselitz:
1.      Status-conferring factors adalah hambatan untuk pembangunan ekonomi.
Pembangunan ekonomi menutut adanya perubahan formasi dalam kelompok masyarakat atau sering disebut dengan istilah social groups yang membutuhkan penyikapan yang berbeda untuk setiap inovasi yang ada untuk mencapai pembangunan ekonomi. Peningkatan kualitas sosial menjadi tidak dianggap penting karena saat ini masyarakat menjadi pihak yang “dikorbankan’. Masyarakat primitif memiliki pola pikir bahwa “wealth, political power, dan education” merupakan aspek-aspek yang sangat dipertimbangkan, dan itu menjadi penghambat dalam pembangunan ekonomi. Disisi lain, dalam pemikiran liberal, kekayaan, kekuatan politik dan pendidikan menjadikan masyarakat berada pada social group yang berbeda. Namun pendapat ini di kritik oleh Engels Friedrich, 1902 yang menyatakan bahwa pemisahan group social tidaklah ada. Englesh menyatakan bahwa “The modern state, no matter what its form is essentially a capitalist machine, the state of capitalist”. Karena pada faktanya diabad ke 19, tidak semua orang kaya dan berpendidikan ikut andil di ranah perpolitikan dan mereka hanya merupakan bagian dari grup kecil di masyarakat.
2.      Kurangnya aspirasidan realisasi dari defective knowledge dan konsekuensi dari ketidakmampuan dalam memutuskan dan mengimplementasikan rencana yang rasional dan  reliable.
3.      Pengabaian aspek-aspek penting dalam pembangunan ekonomi. Contohnya dalah ketika pemerintah mengkampenyekan mengenai pemberantasan malaria namun dari segi ekonomi masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar terkait kebersihan lingkungan untuk memberantas malaria secara total. Ini adalah salah satu bukti pengabaian pemerintah di aspek-aspek tertentu saat mengimplementasikan suatau projek dan program untuk masyarakat. Contoh lain adalah ketika gagalnya proyek swamp drainage untuk mengurangi jumlah penderita dan penyebaran malaria, namun gagal. Penyebabnya adalah korupsi dan mismanajemen. Hal tersebut juga merupakan salah satu wujud pengabaian dari pemerintah.
4.      Konf;ik short-run dan long-run
Adanya perbedaan antara rencana short-run dan long-run yang dilakukan di negara-negara, contohnya di Asia tenggara, Timur Tengah, dan Amerika Latin yang harus berpartisipasi dalam industrialisasi dimana partisipasi ini  sangat penting untuk rencana jangka panjang mereka, tapi mengorbankan kepentingan jangka pendek masyarakat, dimana masyarakat masih belum siap untuk itu. Konflik ini juga merupakan hambatan untuk pembangunan ekonomi.

5.      Perubahan dalam metode kerja dan level kemampuan  yang akan mendukung perubahan teknis dalam aktivitas ekonomi. Kondisi ini mengharuskan peningkatan kulitas dari sumber daya manusia dan sistem kerjanya untuk mendukung tercapainya pembangunan ekonomi.

Menarik bukan?karena tanpa kita sadari hal-hal diluar aspek ekonomi juga mengambil andil yang besar dalam mendukung pembangunan ekonomi.

Wageningen, 4 September 2017




Sumber:
Non-Economic Barriers to Economic Development
Author(s): Bert F. Hoselitz
Source: Economic Development and Cultural Change, Vol. 1, No. 1 (Mar., 1952), pp. 8-21
Published by: The University of Chicago Press
Stable URL: http://www.jstor.org/stable/1151847
Accessed: 02-09-2017 17:20 UTC
REFERENCES Linked references are available on JSTOR for this article:http://www.jstor.org/stable/1151847?seq=1&cid=pdf-reference#references_tab_contents